Rabu, 15 Maret 2017

AKU MENUNGGUMU


Sudahkah rekamanku kau terima
Tentang sebuah cerita yang ingin kau tahu
Cerita masa lalu yang masih ada di ingatanku

Dariku belajar mengayuh sepeda
Dan kau belajar berdiskusi dengan boneka

Sampai akhirnya ku belajar menulis surat cinta
Tapi kau pun sudah lebih dulu menerimanya.

Aku pun masih berharap keajaiban ada
Walau kata "teman" saja sudah cukup buat ku bahagia

Aku yang tertahan oleh kelemahanku hingga kini,
Menanamkan cinta teramat dalam di dalam hati

Aku pun merasa Walau kita dekat tapi tetap miliki batas
Batas yang tak mungkin dapat ku lintas

Aku dan kau bagai telinga
Saling mendengarkan cerita-cerita cinta
Tapi tak satu pun yang bisa mengutarakan cinta

Kini aku pun selalu menunggu waktu
Waktu dimana aku bukanlah hanya jadi pendengar setiamu
Waktu dimana aku bukanlah hanya sebagai temanmu
Melainkan waktu dimana aku bisa memilikimu.


Depan rumahmu dibawah jendela, 28 Februari 2017

Sabtu, 11 Maret 2017

BERSAMA HUJAN

Tak ingatkah kau duhai manusia yang dahulu pernah singgah.
Pohon pun jadi saksi bahwa kita pernah merajut asa.
Dalam keadaan kau dan aku yang mulai melemah.
Terguyur tetes luka dari yang maha kuasa.
Aku dan kau seakan hidup penuh kekuatan.
Saling berkeyakinan semua pasti ada jalan.
Yang terpenting kita tetap dalam ikatan.
Aku pun memelukmu
dengan tubuh gemetaran.
Kenangan itu takkan pernah pergi.
Walau kau kini tak lagi disini.
Walau kau kini tak lagi menanti.
Walau kau kini sudah tak lagi perduli.
Mungkin kurang karungku mengarungi hati indahmu.
Mungkin bahuku tak nyaman lagi untuk pipi indahmu.
Mungkin pelukku tak kuat lagi tahan sedihmu.
Mungkin khayalku tak bisa lagi datangkan senyummu.
Cinta bagai hujan
Yang turun dengan harapan
Cinta bagai genangan
Yang mengotori jalanan.
Tangerang Selatan ,26 November 2016